sekelumit kisah penutupan Dolly surabaya
Gang dolly surabaya
Gang Dolly ini Ada dan berkembang sejak 1960-an i sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly Van Der Mart. Konon lokalisasi prostitusi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Perkampungan Putat Jaya alias Gang Dolly. Dentuman musik di setiap wisma membuat tempat itu semakain ‘panas’. Ditambah lagi, para Pekerja Seks Komersil (PSK) berpakaian serba minim tampak berjajar di ruang etalase di tiap-tiap wisma. Mereka menggoda para lelaki untuk diajak bercinta tentunya dengan bayaran.
Gang Dolly kedengarannya memang tak asing lagi di telinga bila ada yang menyebutkan. Gang Dolly juga sarang penyakit. lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Namanya memang terkenal seantero negeri bahkan sampai luar negeri.
Penutupan berarti menyelamatkan generasi muda khususnya di Surabaya. Jangan sampai anak cucu kita nanti terkena penyakit AIDS, lokalisasi Dolly tamat di tangan Wali Kota Tri Rismaharini setahun lalu. Padahal sebelumnya banyak yang menyangsikan realisasi penutupan itu. Memang, dibutuhkan keberanian untuk merevolusi kota berikut masalah sosialnya, terutama prostitusi.
Seiring perkembangan zaman, kawasan itu tumbuh dan menyatu dengan permukiman di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, menjadi lokalisasi prostitusi. Beragam masalah sosial muncul. Apalagi penghuni kian hari kian bejibun. di Dolly sendiri ternyata memang lebih muda dan cantik sehingga memiliki tarif yang lebih tinggi, berkisar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali kencan. Sedangkan di daerah Jarak yang areanya justru lebih luas, kualitas dan tarifnya di bawah Dolly. Berdasarkan dokumentasi Kelurahan Putat Jaya, tercatat ada 284 wisma yang beroperasi hingga penutupan Dolly di tahun 2014 lalu. Serta tercatat juga ada 208 mucikari yang menjalankan bisnis prostitusi di Dolly. Dan terdapat
1.449 PSK yang mencari rezeki di area lokalisasi Dolly ini.
Wali Kota-wali kota sebelumnya tahu betul soal Dolly dan masalahnya. Tak heran, rencana penutupan terus menyeruak. Namun tak ada yang mampu merealisasikan. Suasana malam di Dolly juga sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam.
Kehidupan malam yang sepi itu memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu orang.
Saat ditutup, para PSK dan mucikari yang berasal dari luar kota, dipulangkan dan diberi uang pesangon untuk mandiri,” tambahnya.
Kabag Rehabilitasi Dinas Sosial Kota Surabaya, Dedy Sosialisto mengaku sudah gencar melakukan pelatihan baik bagi warga sekitar Dolly maupun para PSK dan mucikari. Di antaranya, pelatihan memasak dan menjahit.
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengaku sudah menyiapkan dana Rp16 miliar bantuan dari Kementerian Sosial, untuk membebaskan tanah lokalisasi Dolly. Nantinya, area Dolly akan dijadikan sebagai kawasan sentra PKL dan taman bacaan.
“Di area itu diharapkan warga Dolly bisa menjalankan aktivitas bisnisnya, seperti berjualan aneka makanan dan produk -produk kerajinan,” aku Risma.
Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma dan jajarannya. Entah karena memang cuma rencana demi kepentingan tertentu atau karena faktor lain.Sosialisasi rencana penutupan yang dilakukan jauh-jauh hari. Menjelang Ramadan tahun lalu, tepatnya Rabu, 18 Juni, ia mengeksekusi kebijakan itu. Deklarasi digelar di Gedung Islamic Center, tak jauh dari kantor Kelurahan Putat Jaya. Hampir seribu anggota Brimob dan Sabhara diterjunkan untuk menjaga lokasi deklarasi. Tiga unit mobil water canon juga disiagakan di depan pintu masuk Islamic Center.
Pada massa pro Dolly bergolak. Mereka yang mengatasnamakan Front Pekerja Lokalisasi (FPL) berunjuk rasa dan memblokir gang-gang di sekitar lokaliasi. Pada saat bersamaan, 91 PSK dan mucikari membaca deklarasi di gedung Islamic Center.
Selain itu, pasca penutupan lokalisasi di Surabaya, dolly, dianggap masih menyisakan masalah.Tutupnya tempat prostitusi itu justru menggiring bentuk prostitusi lain, yakni berbasis online. Hal itu makin terbukti sejak penangakapan artis AS saat melayani pria hidung belang di Surabaya. Dengan begitu, masalah prostitusi di Surabaya harus ditangani dengan cara lain.
“Prostitusi itu tetap akan selalu ada selama syaitan tidak hilang. Tetapi bukan prostitusinya yang dihilangkan melainkan apa yang ada di prostitusi itu harus kita basmi.” Seperti itulah yang diucapkan oleh Ustadz Khoiron dalam acara talkshow di masjid At-Taubah yang diselenggarakan oleh mahasiswa UINSA pada hari sabtu tanggal 13-04-2019 kemarin.
Para elemen-elemen dari bapak Sunarto, dari Ustadz KH Khoiron ini dibantu oleh seseorang yang berpengalaman di bidang jual beli sehingga para mantan WTS dan mucikari yang memiliki keahlian di bidang dagang ini disediakan dan dibiayai oleh Bapak Sunarto Sholahuddin. Bapak Sholahuddin ini membiayai secara financial proses penutupan lokalisasi Dolly ini serta seseroang yang menyediakan lahan untuk mengembangkan usaha dari keahlian para mantan WTS dan Mucikari.
Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya Menjadi IDEAL-MUI JATIM
FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya) ini mulai dibentuk pada tahun 2002 dengan diketuai oleh Bapak H. Sunarto yang saat itu merupakan Doctor prostitusi di Surabaya yang juga mengajak Prof. Ali Aziz salah satu dosen UINSA yang sudah berpengalaman dalam hal berdakwah, kemudian juga mengajak Ustadz Khoiron yang merupakan ustadz Prostitusi di daerah Dolly ini serta bapak Sunarto Sholahuddin yang membantu dalam bentuk finansial untuk mensukseskan program dakwah ini. FORKEMAS ini mulai berdakwah di 6 lokalisasi yang ada di Surabaya sejak tahun 2002.
Mulai tahun 2012, mereka berganti nama menjadi IDEAL-MUI Jawa Timur. Yang saat itu sudah mulai membangun banyak musholla di daerah lokalisasi tersebut. IDEAL-MUI Jawa Timur adalah Ikatan Da’I Area Lokalisasi-MUI Jawa Timur yang mulai beroperasi pada tahun 2012, sehingga mereka mulai berdakwah tidak hanya di area Surabaya saja melainkan juga mulai keluar Surabaya. Mereka keluar seperti ke Banyuwangi, Madiun, Mojokerto dan kota lain sebagainya yang masih ada lokalisasi di kota-kota ini sendiri. Obyek dakwah IDEAL – MUI Jatim adalah para wanita harapan dan mucikari yang ada di lokalisasi se Provinsi Jawa Timur.
H. Sunarto Sholahuddin
Bapak Sunarto AS Lahir di Surabaya 1959. masuk fakultas Dakwah jurusan PPAI IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA tahun 1980 lulus 1987. melanjutkan S2 Ekonomi Islam PPS IAIN SUNAN AMEL SURABAYA lulus 2003. melanjutkan S3 PPS SUNAN AMPEL SURABAYA jurusan Dirosah Islamiah lulus 2012.
Bapak sunarto ini mulai mendirikan organisasi yang bernamakan FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat). Didirikan tahun 2002, Forkemas memiliki anggota yang terdiri dari perwakilan sejumlah ormas Islam, NU, Muhammadiyah dan ormas lainnya. Setelah elemen-elemen beliau terbentuk, FORKEMAS mulai membagi tim mereka menuju ke tempat-tempat lokalisasi yang ada di Surabaya untuk mengambil beberapa WTS dan Mucikari. Mereka diambil untk diberikan pembinaan, dakwah serta pengajaran agama yang ditempatkan di asrama haji oleh FORKEMAS.
Konteks dakwah beliau adalah mengubah kemungkaran yang dimana beliau menggunakan teknik berdakwah dengan metode Integratif, Persuasif dan Solutif. Sebelum nya beliau hanya berinisiatif untuk berdakwah secara individu di daerah lokalisasi tetapi hasilnya tidak akan maksimal dan sangat membutuhkan waktu yang sangat lama apabila dilakukan seara individu. Sehingga beliau mengajak elemen-elemen masyarakat yang lain seperti kiai Khoiron Syuaib selaku ustad di daerah lokalisasi serta Prof. Ali Aziz selaku salah satu dosen universitas negeri islam di Surabaya yang sudah mahir dalam bidang berkdakwah.
Beliau berdakwah di depan WTS dan mucikari itu secara menyeluruh, yang dimana tidak hanya hati nya saja diberi dakwah tetapi fisik juga dibekali ajaran dakwah agar dakwah itu bisa menyerap ke seluruh tubuh para WTS dan Mucikari itu.
Dan berdakwah dengan memaksa seseorang atau justru menjelek-jelekkan seseorang itu tidak akan mudah diterima oleh orang lain. Seperti halnya dakwah yang dilakukan oleh Bapak Sunarto ini adalah dengan tidak pernah menyudutkan para WTS dan mucikari ini yang dimana justru oleh masyarakat setempat ada yang memandang pekerjaan mereka ini jijik dan aneh. Tetapi beliau beserta FORKEMAS ini merangkul para WTS dan Mucikari ini layaknya saudara mereka sendiri, beliau berdialog dengan para WTS dan Mucikari ini sehingga banyak dari mereka yang lebih terbuka kepada bapak Sunarto.
Bapak sunarto menulis sepak terjang Kiai Khoiron dan membukukannya. Bukunya diberi judul “Kiai Prostitusi” , pendekatan Dakwah KH Muhammad Khoiron Syuaib di Lokalisasi Kota Surabaya. Bukan hal mustahil kalau kita mau berusaha. “Kiprah dakwahnya terbukti lebih ampuh dan efektif dan bisa dijadikan contoh menangani prostitusi,” kata Ketua IDIAL Jawa Timur, Sunarto beberapa waktu lalu. Asal ada kemauan, pasti ada jalan.
Seperti diketahui, Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDIALl) dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Pebruari 2012. Organisasi ini dibentul guna mendukung program Pemprov Jatim dalam memberantas praktik prostitusi.
“IDIAL didukung 37 anggota Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) di Jatim yang berkomitmen untuk memberantas 47 titik prostitusi yang tersebar di 38 kab/kota di Jatim,” kata Ketua IDIAL Jatim Soenarto.
KH. Drs. Khoiron Syu’aib:
“Ustad Khoiron,adalah seorang dai di lokalisasi dolly surabaya di tempat sedemikian, tingginya jam terbang seorang da’i tidak menjadi jaminan seruannya dapat didengar masyarakat yang sudah terbiasa dengan dosa.
Pada 17 Agustus 1959, Khoiron Syu’aib lahir di tengah salah satu lokalisasi besar di Surabaya, Lokalisasi Bangunsari. Khawatir anaknya terpengaruh dekadensi moral, Kiayi Syu’aib, ayah dari Khoiron kecil untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Selesai melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Beliau sudah menulis buku yang berjudul “Kiai Prostitusi” yang dimana di dalam buku tersebut tertera berbagai macam cerita beliau disaat berdakwah di area lokalisasi. Tidak hanya cerita menginspirasi beliau, tetapi juga terdapat tips metode berdakwah untuk di kalangan prostitusi atau berdakwah di daerah lokalisasi. Dan pada tahun 1982, Khoiron terpanggil untuk membenahi kampung halamannya. Tantangan besar menghadapi lika-liku dunia maksiat tidak membuatnya mundur.
Bahkan suatu ketika, ia pernah mendapati preman yang mengungkapkan keberaniannya menghadapi azab Allah Subhanahu wata’ala.
“Mereka (preman, pelacur, mucikari, dan pelanggan prostitusi) sesungguhnya butuh bantuan untuk bangkit mengalahkan tekanan hawa nafsu, jika kita berdakwah dengan main vonis, hati mereka justru akan semakin tertutup,” jelasnya.
“Allah kan menciptakan surga dan neraka dengan fungsinya masing-masing, kalau tidak ada orang-orang seperti kita, nanti surga tidak terpakai,” ujar Khoiron mengulang ungkapan preman yang menantang usaha dakwahnya.
Salah satu trik yang dipakai oleh Khoiron dalam merangkul para pelacur, mucikari, dan preman lokalisasi adalah dengan tidak menyebut kata “dosa” dalam setiap tausiahnya. Ia justru menekankan agar para pelaku maksiat ini untuk melihat masa depan agar mau bertaubat.
“Kalau di jelaskan tentang dosa, mereka justru sudah sangat tahu perbuatan mereka adalah dosa besar, justru dengan memberikan mereka harapan akan masa depan yang lebih baik, hati mereka akan perlahan-lahan menerima kebenaran,” papar Khoiron dengan yakin.
Walau membutuhkan waktu puluhan tahun, akhirnya kerja dakwah Khoiron membuahkan hasil. Saat ini, Bangunsari yang sempat menjadi sentral lokalisasi di Surabaya yang bahkan lebih tua dari Dolly, tidak meninggalkan bekas.
Keberhasilan Khoiron dalam berdakwah dan mendekati masyarakat area lokalisasi memberi inspirasi bagi Pemkot Surabaya untuk berani menindak tegas area lokalisasi. Sebelum kesuksesan Khoiron, keinginan Pemkot Surabaya untuk menertibkan lokalisasi tampak seperti mimpi.
Selain karena banyak oknum pemerintah yang membekingi area lokalisasi, mengusik area tersebut secara umum diibaratkan seperti membangunkan macan lapar.
“Mereka yang sudah terlalu nyaman dengan gelimang dosa, akan bertindak liar jika kesenangannya diganggu,” ujar ayah berputra tiga ini.
Dari sini, Khoiron pun mengungkapkan bahwa persoalan lokalisasi pelacuran dapat diselesaikan dengan baik jika ulama dan umaro berusaha membangun sinergi.
Ia juga mencontohkan betapa sinergi antara Soekarwo selaku Gubernur Jawa Timur, Risma selaku Wali Kota Surabaya dan seluruh ulama se Jawa Timur, mampu bersepakat untuk mengalih fungsikan lokalisasi Dolly.
“Walau alih fungsi lokalisasi Dolly-Jarak memakan waktu, tapi keberanian untuk memprakarsai hal ini adalah prestasi besar yang patut kita apresiasi,” katanya.
Khoiron yang sering diledek dengan panggilan “Kiaii Prostitusi” turut menghimbau kepada para da’i agar melihat area lokalisasi pelacuran sebagai ladang dakwah. Panduan yang ia sampaikan sebagai bekal berdakwah di area lokalisasi pun terbilang sederhana.
“Dalam Al Qur’an sudah dijelaskan dengan gamblang, mulailah menyeru dengan menggunakan hikmah dan kebijaksanaan, lalu perkuat dengan contoh dan tauladan yang baik, dan jika masih ada yang berkeras, debatlah ia dengan cara sebaik-baiknya,” tutup Khoiron.
H. Gatot Subiantoro
Saat Dolly berkibar sebagai pusat pelacuran, dialah salah satu penguasanya. Pria bertubuh tinggi besar itu menjadi preman. Pelindung rumah-rumah bordir.Namun, kini dia sudah tobat. Dunia kelam itu hanyalah kenangan. Menjadi bagian hidup. Contoh yang tak ingin dia ajarkan kepada anak dan keturunannya.
pak Gatot kini hidup dengan pekerjaan baru, sebagai penjaga showroom di kawasan Pucang Anom itu. Menjajakan mobil-mobil bekas. Mencari rezeki yang halal. Tak mudah bagi pak Gatot untuk meninggalkan kubangan dosa. Dia harus menempuh jalan berliku. Meninggalkan gemerlap dunia malam. Kehidupan penuh foya-foya dan kenikmatan semu.
Kisah pertobatan pak Gatot dimulai setelah bertemu ulama lokal. Kiai Khoiron Syu’aib. Kala Dolly belum ditutup pemerintah Surabaya, pak kiai ini kerap berceramah di sana. Mengajak para penghuni lokalisasi untuk bertobat.
Dan malam itu, pak Gatot tengah mabuk berat. Badan sudah tak lagi tegak. Mata kabur. Semua suara yang masuk ke telinga tak lagi dia dengarkan.
Saat itulah Kiai Khoiron datang. Bukan untuk ceramah. Sebab pak kiai juga tahu Gatot sedang hilang ingatan. Pak kiai hanya menyerahkan nasi kotak. Berkat hasil kondangan.
“ Saya ingat ketika itu Kiai Khoiron datang saat saya sedang mabuk, beliau datang tidak untuk menceramahi saya, tapi justru membawa sebungkus berkat,” kata pak Gatot.
Setelah malam itu, Kiai Khoiron terus mendekati pak Gatot. Ajakan tobat disampaikan dengan halus. Sopan. Lambat laun, hati pak Gatot luluh. Dan pada tahun 2001, preman itu insyaf.
“ Satu nasihat Kiai Khoiron yang membuat hati saya berubah total, beliau bilang bahwa kekayaan tidak ada habisnya kalau dicari, kemiskinan juga tidak ada ujungnya jika ditelusuri. Tapi yang namanya umur, pasti akan berhenti, dan bisa mendadak dicabut,” tutur pak Gatot.
Disaat bapak Gatot sudah insyaf, otomatis bapak Gatot ini tidak melakukan perkerjaan awal yang beliau lakukan yaitu mencari calon PSK di berbagai daerah. Pelosok Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah pernah ia jelajahi guna mencari “mangsa”. Waktu setelah itu bapak Gatot saat ini beliau bingung mencari pekerjaan yang halal itu dimana karena ini pertama kalinya beliau keluar dari zona nyaman beliau. Hingga akhirnya oleh ustadz Khoiron dibantu dengan menjadikan bapak Gatot ini dilibatkan dalam kegiatan pengentasan PSK, sekaligus menjadi salah satu pengurus di Pondok Pesantren Raudlatul Khoir, pesantren yang dirintis oleh Kiai Khoiron di belakang kediamannya.
Dan Alhamdulillah bapak Gatot menemukan pekerjaan yaitu jual beli mobil yang mulai beliau lakoni. Sembari berjualan mobil, bapak Gatot ini juga mulai menebus kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa lalu yaiu dengan berbuat kebaikan kepada orang-orang disekitarnya. Yang akhirnya ada beberapa teman bapak Gatot yang juga ikut insyaf dan akhirnya menyebar walaupun secara bertahap.

Komentar
Posting Komentar